Rabu, 13 Mei 2020

Belajar Budidaya Jamur Merang


WORK FROM HOME! BELAJAR BUDIDAYA JAMUR MERANG 

(Volvariella volvaceae)

 Balqis Mufti Aulia
185040107111053
Kelas H
Budidaya Tanpa Tanah

A. PERKENALAN
Jamur merang memiliki nama latin Volvariella volvaceae. Jamur ini merupakan salah satu jenis jamur yang banyak ditemui di wilayah Asia. Jamur merang dapat tumbuh pada berbagai media sebagai contoh yaitu penggunaan media limbah, jamur merang dinilai mampu mendegradasi limbah organik. Jamur merang masuk ke dalam kategori jamur saprofit yaitujamur yang tumbuh pada substrat organik dari hewan maupun tumbuhan yang sudah mati dan akan mengubah substrat menjadi zat yang mudah diserap.
Jamur merang merupakan sumber makanan dengan kandungan gizi yang baik. Menurut Karsid et al. (2015), agar dapat tumbuh dengan baik, jamur merang perlu dibudidayakan pada suhu kumbung dengan kisaran 30-35oC dan kelembapan relatif pada kisaran 80-90%. Oleh karena suhu dan kelembapan udara di sekitar kumbung dinilai sangat berfluktuatif, maka perlu upaya untuk mempertahankan suhu dan kelembapan agar mempunyai kisaran fluktuatif yang sempit dengan menerapkan alat kontrol suhu dan kelembapan. Suhu dan kelembapan tanpa alat kontrol terukur masih jauh dari kondisi optimal yaitu suhu dengan kisaran 23-37oC dan kelembapan 70-90%. Setelah dipasang alat kontrol suhu dan kelembapan, dinilai lebih stabil pada kisaran 28-35oC dan kelembapan 85-95%.
Seperti yang disebutkan pada Sunandar (2010) jamur merang merupakan jenis jamur yang pertama kali dibudidayakan di China yaitu sekitar tahun 1650 dan mulai dibudidayakan di Indonesia pada tahun 1950. Secara taksonomi jamur merang diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom: Myceteae
Divisi: Amastigomycota
Kelas: Basidiomycetes
Subkelas: Homobasidiomycetes
Ordo: Agaricales
Famili: Plutaceae
Genus: Volvariella
Spesies: Volvariella volvaceae

B. MEDIA TUMBUH
Pengomposan dilakukan dengan tujuan untuk mengaktifkan mikroflora termofilik, yakni bakteri yang berfungi merombak selulosa, hemiselulosa, serta lignin, sehingga lebih mudah dicserap oleh jamur. Selama proses pengomposan akan timbul panas yang dapat mematikan organisme yang merugikan bagi pertumbuhan jamur.
Digunakanlah jerami sebagai bahan baku media tumbuhnya jamur merang. Menurut Sunandar (2010) bahan baku ini dapat dipadukan dengan limbah pertanian yang tersedia, misalnya kapas bekas dari pemintalan benang, ampas aren, ampas tebu, kardus bekas, dan bahkan eceng gondok yang telah dikeringkan. Bahan tambahan lain yang diperlukan yaitu bekatul sebagai sumber karbohidrat, kapur untuk menetralkan media, dan kotoran ayam dapat ditambahkan untuk meningkatkan kadar nitrogen dalam media. Berikut merupakan komposisi lengkap media untuk budidaya jamur merang dengan total produksi 450 kg:
No.
Bahan
Volume
Satuan
1.
Jerami kering
2
Ton
2.
Bekatul
40
Kg
3.
Kapur
300
Kg
4.
Kapas bekas pemintalan
300
Kg
5.
Urea
2
Kg
6.
Kotoran ayam
100
Kg
Menurut Sunandar (2010) pembuatan kompos:
· Dapat dilakukan di dalam ruangan atau di ruangan beratap, walaupun tidak berdinding.
· Permukaan bawah tempat pengomposan sebaiknya disemen atau dilapisi plastik/terpal.
· Dalam pembuatan kompos, bahan-bahan dibagi dua, yaitu satu bagian dikomposkan tersendiri (media utama saja) dan satu bagian lagi diberi media tambahan, lalu dikomposkan (media utama + media tambahan).
· Setelah kedua bagian kompos selesai, kedua macam kompos tersebut dicampur secara merata. Langkah-langkah pembuatan media kompos (media utama) sebagai berikut :
Sumber: Sunandar (2010)
Ciri jerami yang telah menjadi kompos adalah:
· Tidak berbau amoniak
· Warna kompos coklat sampai dengan hitam
· Teksturnya lunak
· Kadar airnya 65% yang diukur dengan cara memijatnya, bila terasa basah tetapi tidak menetes, berarti kadar airnya sudahsesuai
·pH kompos 7 – 7,5
Sumber: Sunandar (2010), Pembuatan Media Kompos (Media Tumbuh Jamur)

C. LINGKUNGAN TUMBUH
Jamur merang membutuhkan kondisi lingkungan yang khusus. Media tanam yang biasa digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah jerami, ampas tebu, limbah kardus, limbah kapas, dll. Limbah yang digunakan sebagai media haruslah terbebas dari kontaminasi, agar tidak menumbuhkan jamur lain yang tidak diharapkan (Gunawan, 2000).
Setiap jenis jamur membutuhkan syarat tumbuh yang berbeda-beda. Berikut ini merupakan syarat tumbuh jamur merang:
· Jamur tumbuh di daerah tropis
· Membutuhkan suhu dan kelembaban yang cukup tinggi, suhu yang digunakan antara 30-38°C dengan suhu optimum yaitu 35°C, dan kelembapan relatif antara 80% - 85%
· Kebutuhan pH dalam media tumbuh yaitu antara pH 5,0 - pH 8,0. Kebanyakan jenis jamur lebih toleran pada keadaan pH masam dari pada pH basa.
Sumber: Sunandar (2010), Kumbung Jamur

D. PEMBIBITAN JAMUR
Menurut Sunandar (2010) setelah proses sterilisasi telah dilakukan,
· Suhu kumbung diturunkan hingga 30°C. Pada suhu tersebut, segera dilakukan proses penanaman bibit.
· Penanaman bibit dilakukan pada suhu 30°C bertujuan untuk mencegah tumbuhnya jamur kontaminan, karena media sudah didominasi terle bih dahulu oleh jamur yang kita tanam.
· Penanaman bibit dilakukan dengan cara menebarkan bibit siap semai ke permukaan dan bagian tengah media. *Bibit sebanyak 300 gr dapat dipergunakan untuk luasan 1 m2.
· Jumlah bibit yang diberikan tidak berpengaruh pada hasil, tetapi berpengaruh pada penekanan tumbuhnya jamur atau cendawan kontaminan.
· Selain dengan kepadatan bibit, pertumbuhan cendawan kontaminan dapat dicegah dengan sterilnya perala tan maupun tangan pekerja (penanam). Agar steril, peralatan dapat diber sihkan dengan alkohol.

E. TEKNIK BUDIDAYA JAMUR MERANG
Apabila proses pembibitan jamur sudah selesai, tahap selanjutnya adalah mempersiapkan teknik budidaya jamur. Berikut merupakan tahapan yang diperlukan dalam budidaya jamur merang menurut Kanza (2015):
1.         Persiapan media tanam
Jamur merang pada dasarnya dapat tumbuh di tempat-tempat yang berupa sisa tumbuhan atau makhluk hidup yang telah mengalami pelapukan/pembusukan. Untuk pembuatan medianya dapat berasal dari campuran jerami padi dan kapas (50% : 50%), kapur pertanian (2% dari berat jerami dan kapas), bekatul (10%), dan urea (1%).
2.         Fermentasi
Proses fermentasi dilakukan untuk mempercepat proses pelapukan media, proses ini dapat dilakukan dengan cara:
· Memotong jerami padi dengan ukuran 10-15cm
· Campur dengan kapas dan kapur
· Rendam dalam air selama 24 jam
· Angkat campuran media dan tumpuk diatas lantai dengan ukuran 1,5m x 1,5m x 1,5m.
· Tutup tumpukan media dengan plastik dan diamkan 4-6 hari
· Setiap 2-3 hari campuran media harus di bolak balik, sebelum akhirnya ditambahkan 10% dedak, 1% superpospat, dan 1% kapur pertanian.
3.         Sterilisasi kumbung jamur
Sterilisasi dilakukan dengan cara memasukan media tanam secara merata di atas rak tanam yang disiapkan dalam kumbung jamur, ketebalan media dengan ukuran 15-20 cm. Tutup rapat kumbung jamur, lalu alirkan uap panas ke dalam kumbung tersebut. Proses ini dilakukan selama 2-4 jam hingga suhu di dalam kumbung jamur naik sampai 70ºC, selanjutnya diamkan rumah kumbung jamur sekitar 24 jam, hingga suhunya kembali turun menjadi 32-35 ºC.
4.         Inokulasi (penanaman bibit)
Penanaman bibit jamur merang dilakukan dengan menebarkan langsung bibit ke rak tanam yang telah disterilisasikan. Apabila menggunakan media tanam dengan ukuran tinggi sekitar 15-20 cm, panjang 3 m dan lebar 1 m, diperkirakan bibit jamur yang dibutuhkan berkisar 10-14 botol bibit jamur merang dengan isi 220 cc.
5.         Inkubasi
Proses inkubasi bibit jamur merang dapat dilakukan di kumbung jamur. Idealnya suhu yang dibutuhkan yaitu antara 32-35 ºC, dengan kelembaban 65%, dengan disertai bantuan cahaya lampu TL sebesar 60 watt. Selain itu, untuk mempercepat pertumbuhan miselium, kumbung jamur harus tetap ditutup selama 3-4 hari, setelah 4-8 hari biasanya miselium akan tumbuh membentuk primordia jamur, hingga pada akhirnya bisa dipanen setelah 8-12 hari. Waktu panen jamur merang yang paling tepat adalah saat kuncupnya belum mekar. Bila jamur dipanen ketika kuncup telah mekar, maka nilai ekonomisnya akan turun dan kurang diminati pasar.

Sumber: Kanza (2015), Proses budidaya jamur merang; Persiapan bibit jamur; Persiapan media tanam; Fermentasi jamur; Sterilisasi jamur; Inokulasi jamur; Inkubasi jamur; dan Panen jamur

F. PANEN
Menurut Sunandar (2010) apabila kondisi media maupun lingkungan cukup baik, jamur dapat dipanen dengan memenuhi syarat yaitu:
· Pada hari ke- 10 hingga hari ke- 14 dari penanaman bibit
· Jamur merang yang dipanen adalah jamur dalam stadium kancing. Jamur merang yang payungnya sudah mekar tidak diminati oleh konsumen. Oleh karena itu, diusahakan waktu panen tidak terlambat.
· Pemetikan jamur harus hati-hati, supaya tidak merusak miselium maupun calon tubuh buah yang lain.
· Panen dilakukan pada pagi hari dan sore hari selama 3 hari berturut-turut. Setelah  1 minggu kemudian, dapat dilakukan panen lagi. Dalam 2 periode, hasil panen yang diperoleh sekitar 25 – 40 % dari total produksi. Total pemanenan dapat berlangsung selama 1 bulan.
Rata-rata produksi satu kumbung berukuran 4m x 7m sekitar 200 – 250 kg. Banyak sedikitnya hasil panen dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kualitas dari bibit termasuk didalamnya sifat genetik bibit yang digunakan, kualitas media, proses sterilisasi, dan kondisi lingkungan.
Kualitas hasil panen jamur sangat bervariasi. Jamur merang yang dikatakan baik, apabila:
· Masih dalam stadia kancing
· Berdiameter sekitar 3 – 5 cm
· Berwarna putih coklat muda
· Bentuknya tidak rusak karena terserang mikroorganisme
Jamur dengan mutu yang baik ini dapat dipasarkan di pasar  swalayan, tetapi sebelumnya bagian bawah yang kotor diiris dengan pisau, agar bersih dan kemudian dikemas dalam plastik. Adapun jamur yang kurang berkualitas dapat dipasarkan di pasar tradisional. Jamur hasil panen ini sebaiknya segera dipasarkan,  karena daya tahannya tidak lama. Pada suhu kamar, jamur merang hanya bertahan 1 – 2 hari, sedangkan bila disimpan dalam lemari pendingin dapat bertahan 3 – 4 hari.
Sumber: Sunandar (2010), Proses Pemanenan Jamur Merang

G. PASCA PANEN JAMUR MERANG
Berikut ini merupakan proses pasca panen jamur merang segar menurut Kementrian Pertanian (2011):
1. Sortasi awal
Sortasi awal bertujuan untuk memisahkan jamur dari kotoran-kotoran yang terbawa pada saat panen, seperti tanah, pasir, kerikil, daun, dll. Biasanya kegiatan sortasi awal dilakukan bersamaan dengan proses pemanenan untuk menjaga kondisi jamur agar tetap segar. Hasil petikan ditampung, sebab walaupun jamur sudah dipetik, namun jamur masih tetap aktif melakukan proses respirasi. Setelah dipanen, kemudian dikumpulkan ditempat pengumpulan, kemudian dilakukan grading untuk memudahkan dalam menentukan keseragaman antara yang kualitas super dan yang tidak super dalam pemasarannya.
2. Pembersihan
Jamur dibersihkan dari kotoran yang menempel pada bagian akar dan buah jamur sehingga daya simpan jamur akan lebih lama. Pembersihan dilakukan dengan memotong akar dan pangkal tangkai jamur dengan pisau tajam dan bersih, lalu kotoran, spora dan air media yang menempel pada permukaan tubuh buah dibersihkan. Dalam pembersihan tidak boleh menggunakan air.
3. Grading
Setelah dilakukan sortasi awal dan pembersihan, maka dilakukan grading jamur merang segar berdasarkan kualitas hasil panen jamur merang seperti pada tabel berikut:
Sumber: Kementrian Pertanian (2011)
4. Penimbangan
Penimbangan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui berat jamur merang sebelum dipasarkan sesuai dengan keinginan konsumen.
5. Pengemasan dan Pelabelan
Pengemasan jamur merang dapat dilakukan dengan cara:
· Jamur merang yang akan dipasarkan langsung dapat dikemas dengan rinjing plastik yang berongga, ditutup dengan koran/daun pisang, dan jangan sampai terkena benturan ataupun sinar matahari sehingga mengakibatkan rusak/cepat mekar.
· Dapat pula dikemas di dalam kain batis (cheese cloth) yang selanjutnya disimpan dalam refrigerator pada suhu 150oC.
· Dikemas dalam kotak styrofoam yang bagian dasarnya diberi es
· Dikemas dalam peti kayu yang dindingnya dilapisi es yang dibungkus plastik
· Dikemas dalam keranjang bambu yang diberi dry ice yang dibungkus kertas. Pengemasan jamur merang dengan cara di atas dapat mempertahankan kesegaran jamur merang hingga 4-5 hari.
Setelah dilakukan pengemasan, maka dilakukan pelabelan produk untuk memudahkan identifikasi produk dan trace ability (daya telusur) demi keamanan pangan. Label umumnya berisi antara lain nama produk, tanggal pengemasan, manfaat produk, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, dan metode penyimpanan. Pengemasan jamur merang kering dapat dilakukan dengan menggunakan kantong plastik dan ditutup rapat atau dimasukkan ke dalam kaleng kedap udara, dan dapat bertahan sampai 6 bulan.
6. Penyimpanan
Penyimpanan adalah usaha untuk mempertahankan daya guna suatu produk, dimana responnya sangat bergantung pada karakteristik produk. Penyimpanan dan pengepakan jamur dilakukan dengan memasukkan ke dalam keranjang plastik persegi atau wadah yang berlubang atau berongga.
Penanganan pascapanen jamur merang dilakukan untuk memperpanjang daya simpannya. Menurut Adiandri et al. (2012) dalam penelitiannya disebutkan bahwa penanganan pasca panen dilakukan dengan cara meyimpanan jamur merang dalam larutan berbahan aditif yang dikemas dalam standing pouch dan gelas plastik (cup). Tahapan yang dilakukan meliputi:
· sortasi
· pencucian
· perendaman dalam larutan CaCl2 1% selama 1 menit
· blansing dalam air panas (suhu 80-100oC) selama 1 menit
· pengemasan dalam larutan berbahan aditif dan penyimpanan pada suhu ± 5oC.
Proses pembersihan/pencucian awal jamur merang diperlukan untuk memisahkan kotoran yang ada serta mengurangi jumlah mikroba awal. Kotoran yang perlu dihilangkan dari bahan baku jamur merang terutama adalah jerami atau kompos sisa media budidaya jamur merang.


Tonton Video Dibawah Ini Supaya Lebih Paham :)




REFERENSI
Adiandri, R. S., S. Nugraha dan R. Rachmat. 2012. Karakteristik Mutu Fisikokimia Jamur Merang (Volvarella volvacea) Selama Penyimpanan dalam Berbagai Jenis Larutand Kemasan. Jurnal Pascapanen 9(2): 77 – 87.
Gunawan, A. W. 2000. Usaha Pembibitan Jamur. Jakarta: Penebar Swadaya.
Kanza, Aufa Aulia. 2015. Budidaya Jamur Kuping, Jamur Merang, Jamur Tiram, dan Jamur Kancing. Jatinangor: FMIPA Unversitas Padjajaran.
Karsid, K., R. Aziz, dan H. Apriyanto. 2015. Aplikasi Kontrol Otomatis Suhu dan Kelembaban untuk Peningkatan Produktivitas Budidaya Jamur Merang. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 4(3).
Kementrian Pertanian. 2011. Pedoman Teknologi Penanganan Pascapanen Jamur. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat.
Sunandar, Bambang. 2010. Budidaya Jamur Merang. Bandung: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat.