WORK FROM HOME! BELAJAR BUDIDAYA JAMUR MERANG
(Volvariella volvaceae)
185040107111053
Kelas H
Budidaya Tanpa Tanah
A. PERKENALAN
Jamur merang memiliki nama latin Volvariella volvaceae. Jamur ini merupakan
salah satu jenis jamur yang banyak ditemui di wilayah Asia. Jamur merang dapat
tumbuh pada berbagai media sebagai contoh yaitu penggunaan media limbah, jamur
merang dinilai mampu mendegradasi limbah organik. Jamur merang masuk ke dalam
kategori jamur saprofit yaitujamur yang tumbuh pada substrat organik dari hewan
maupun tumbuhan yang sudah mati dan akan mengubah substrat menjadi zat yang
mudah diserap.
Jamur merang merupakan sumber
makanan dengan kandungan gizi yang baik. Menurut Karsid et al. (2015), agar dapat tumbuh dengan baik, jamur merang perlu
dibudidayakan pada suhu kumbung dengan kisaran 30-35oC dan kelembapan
relatif pada kisaran 80-90%. Oleh karena suhu dan kelembapan udara di sekitar
kumbung dinilai sangat berfluktuatif, maka perlu upaya untuk mempertahankan suhu
dan kelembapan agar mempunyai kisaran fluktuatif yang sempit dengan menerapkan
alat kontrol suhu dan kelembapan. Suhu dan kelembapan tanpa alat kontrol
terukur masih jauh dari kondisi optimal yaitu suhu dengan kisaran 23-37oC
dan kelembapan 70-90%. Setelah dipasang alat kontrol suhu dan kelembapan,
dinilai lebih stabil pada kisaran 28-35oC dan kelembapan 85-95%.
Seperti yang disebutkan pada
Sunandar (2010) jamur merang merupakan jenis jamur yang pertama kali dibudidayakan
di China yaitu sekitar tahun 1650 dan mulai dibudidayakan di Indonesia pada
tahun 1950. Secara taksonomi jamur merang diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom: Myceteae
Divisi: Amastigomycota
Kelas: Basidiomycetes
Subkelas: Homobasidiomycetes
Ordo: Agaricales
Famili: Plutaceae
Genus: Volvariella
Spesies: Volvariella volvaceae
B. MEDIA TUMBUH
Pengomposan
dilakukan dengan tujuan untuk mengaktifkan mikroflora termofilik, yakni bakteri
yang berfungi merombak selulosa, hemiselulosa, serta lignin, sehingga lebih
mudah dicserap oleh jamur. Selama proses pengomposan akan timbul panas yang dapat
mematikan organisme yang merugikan bagi pertumbuhan jamur.
Digunakanlah
jerami sebagai bahan baku media tumbuhnya jamur merang. Menurut Sunandar (2010)
bahan baku ini dapat dipadukan dengan limbah pertanian yang tersedia, misalnya
kapas bekas dari pemintalan benang, ampas aren, ampas tebu, kardus bekas, dan
bahkan eceng gondok yang telah dikeringkan. Bahan tambahan lain yang diperlukan
yaitu bekatul sebagai sumber karbohidrat, kapur untuk menetralkan media, dan
kotoran ayam dapat ditambahkan untuk meningkatkan kadar nitrogen dalam media. Berikut
merupakan komposisi lengkap media untuk budidaya jamur merang dengan total produksi
450 kg:
No.
|
Bahan
|
Volume
|
Satuan
|
1.
|
Jerami kering
|
2
|
Ton
|
2.
|
Bekatul
|
40
|
Kg
|
3.
|
Kapur
|
300
|
Kg
|
4.
|
Kapas bekas pemintalan
|
300
|
Kg
|
5.
|
Urea
|
2
|
Kg
|
6.
|
Kotoran ayam
|
100
|
Kg
|
Menurut
Sunandar (2010) pembuatan kompos:
· Dapat
dilakukan di dalam ruangan atau di ruangan beratap, walaupun tidak berdinding.
· Permukaan
bawah tempat pengomposan sebaiknya disemen atau dilapisi plastik/terpal.
· Dalam
pembuatan kompos, bahan-bahan dibagi dua, yaitu satu bagian dikomposkan tersendiri
(media utama saja) dan satu bagian lagi diberi media tambahan, lalu dikomposkan
(media utama + media tambahan).
· Setelah
kedua bagian kompos selesai, kedua macam kompos tersebut dicampur secara
merata. Langkah-langkah pembuatan media kompos (media utama) sebagai berikut :
Sumber: Sunandar (2010)
Ciri
jerami yang telah menjadi kompos adalah:
· Tidak
berbau amoniak
· Warna
kompos coklat sampai dengan hitam
· Teksturnya
lunak
· Kadar
airnya 65% yang diukur dengan cara memijatnya, bila terasa basah tetapi tidak
menetes, berarti kadar airnya sudahsesuai
·pH
kompos 7 – 7,5
Sumber: Sunandar (2010), Pembuatan Media Kompos (Media Tumbuh Jamur)
C. LINGKUNGAN TUMBUH
Jamur merang membutuhkan kondisi lingkungan yang khusus. Media
tanam yang biasa digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah jerami, ampas
tebu, limbah kardus, limbah kapas, dll. Limbah yang digunakan sebagai media haruslah
terbebas dari kontaminasi, agar tidak menumbuhkan jamur lain yang tidak
diharapkan (Gunawan, 2000).
Setiap jenis jamur membutuhkan syarat tumbuh yang
berbeda-beda. Berikut ini merupakan syarat tumbuh jamur merang:
· Jamur tumbuh di daerah tropis
· Membutuhkan suhu dan kelembaban yang cukup tinggi,
suhu yang digunakan antara 30-38°C dengan suhu optimum yaitu 35°C, dan kelembapan
relatif antara 80% - 85%
· Kebutuhan pH dalam media tumbuh yaitu antara pH
5,0 - pH 8,0. Kebanyakan jenis jamur lebih toleran pada keadaan pH masam dari
pada pH basa.
Sumber: Sunandar (2010), Kumbung Jamur
D. PEMBIBITAN JAMUR
Menurut Sunandar (2010) setelah proses sterilisasi telah
dilakukan,
· Suhu kumbung diturunkan hingga 30°C. Pada suhu
tersebut, segera dilakukan proses penanaman bibit.
· Penanaman bibit dilakukan pada suhu 30°C
bertujuan untuk mencegah tumbuhnya jamur kontaminan, karena media sudah
didominasi terle bih dahulu oleh jamur yang kita tanam.
· Penanaman bibit dilakukan dengan cara menebarkan
bibit siap semai ke permukaan dan bagian tengah media. *Bibit sebanyak 300 gr
dapat dipergunakan untuk luasan 1 m2.
· Jumlah bibit yang diberikan tidak berpengaruh
pada hasil, tetapi berpengaruh pada penekanan tumbuhnya jamur atau cendawan
kontaminan.
· Selain dengan kepadatan bibit, pertumbuhan
cendawan kontaminan dapat dicegah dengan sterilnya perala tan maupun tangan
pekerja (penanam). Agar steril, peralatan dapat diber sihkan dengan alkohol.
E. TEKNIK BUDIDAYA JAMUR MERANG
Apabila proses pembibitan jamur sudah selesai, tahap
selanjutnya adalah mempersiapkan teknik budidaya jamur. Berikut merupakan
tahapan yang diperlukan dalam budidaya jamur merang menurut Kanza (2015):
1.
Persiapan
media tanam
Jamur merang pada dasarnya dapat tumbuh di tempat-tempat yang
berupa sisa tumbuhan atau makhluk hidup yang telah mengalami
pelapukan/pembusukan. Untuk pembuatan medianya dapat berasal dari campuran
jerami padi dan kapas (50% : 50%), kapur pertanian (2% dari berat jerami dan kapas),
bekatul (10%), dan urea (1%).
2.
Fermentasi
Proses fermentasi dilakukan untuk mempercepat proses
pelapukan media, proses ini dapat dilakukan dengan cara:
· Memotong
jerami padi dengan ukuran 10-15cm
· Campur
dengan kapas dan kapur
· Rendam
dalam air selama 24 jam
· Angkat
campuran media dan tumpuk diatas lantai dengan ukuran 1,5m x 1,5m x 1,5m.
· Tutup
tumpukan media dengan plastik dan diamkan 4-6 hari
· Setiap
2-3 hari campuran media harus di bolak balik, sebelum akhirnya ditambahkan 10%
dedak, 1% superpospat, dan 1% kapur pertanian.
3.
Sterilisasi
kumbung jamur
Sterilisasi dilakukan dengan cara memasukan media tanam
secara merata di atas rak tanam yang disiapkan dalam kumbung jamur, ketebalan
media dengan ukuran 15-20 cm. Tutup rapat kumbung jamur, lalu alirkan uap panas
ke dalam kumbung tersebut. Proses ini dilakukan selama 2-4 jam hingga suhu di
dalam kumbung jamur naik sampai 70ºC, selanjutnya diamkan rumah kumbung jamur
sekitar 24 jam, hingga suhunya kembali turun menjadi 32-35 ºC.
4.
Inokulasi
(penanaman bibit)
Penanaman bibit jamur merang dilakukan dengan menebarkan
langsung bibit ke rak tanam yang telah disterilisasikan. Apabila menggunakan
media tanam dengan ukuran tinggi sekitar 15-20 cm, panjang 3 m dan lebar 1 m,
diperkirakan bibit jamur yang dibutuhkan berkisar 10-14 botol bibit jamur
merang dengan isi 220 cc.
5.
Inkubasi
Proses inkubasi bibit jamur merang dapat dilakukan di kumbung
jamur. Idealnya suhu yang dibutuhkan yaitu antara 32-35 ºC, dengan kelembaban
65%, dengan disertai bantuan cahaya lampu TL sebesar 60 watt. Selain itu, untuk
mempercepat pertumbuhan miselium, kumbung jamur harus tetap ditutup selama 3-4
hari, setelah 4-8 hari biasanya miselium akan tumbuh membentuk primordia jamur,
hingga pada akhirnya bisa dipanen setelah 8-12 hari. Waktu panen jamur merang
yang paling tepat adalah saat kuncupnya belum mekar. Bila jamur dipanen ketika
kuncup telah mekar, maka nilai ekonomisnya akan turun dan kurang diminati pasar.
Sumber: Kanza (2015), Proses budidaya jamur merang;
Persiapan bibit jamur; Persiapan media tanam; Fermentasi jamur; Sterilisasi
jamur; Inokulasi jamur; Inkubasi jamur; dan Panen jamur
F. PANEN
Menurut Sunandar (2010) apabila kondisi media maupun
lingkungan cukup baik, jamur dapat dipanen dengan memenuhi syarat yaitu:
· Pada hari ke- 10 hingga hari ke- 14 dari penanaman
bibit
· Jamur merang yang dipanen adalah jamur dalam
stadium kancing. Jamur merang yang payungnya sudah mekar tidak diminati oleh
konsumen. Oleh karena itu, diusahakan waktu panen tidak terlambat.
· Pemetikan jamur harus hati-hati, supaya tidak
merusak miselium maupun calon tubuh buah yang lain.
· Panen dilakukan pada pagi hari dan sore hari
selama 3 hari berturut-turut. Setelah 1
minggu kemudian, dapat dilakukan panen lagi. Dalam 2 periode, hasil panen yang
diperoleh sekitar 25 – 40 % dari total produksi. Total pemanenan dapat
berlangsung selama 1 bulan.
Rata-rata produksi satu kumbung berukuran 4m x 7m sekitar 200
– 250 kg. Banyak sedikitnya hasil panen dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain kualitas dari bibit termasuk didalamnya sifat genetik bibit yang
digunakan, kualitas media, proses sterilisasi, dan kondisi lingkungan.
Kualitas hasil panen jamur sangat bervariasi. Jamur merang
yang dikatakan baik, apabila:
· Masih dalam stadia kancing
· Berdiameter sekitar 3 – 5 cm
· Berwarna putih coklat muda
· Bentuknya tidak rusak karena terserang
mikroorganisme
Jamur dengan mutu yang baik ini dapat dipasarkan di
pasar swalayan, tetapi sebelumnya bagian
bawah yang kotor diiris dengan pisau, agar bersih dan kemudian dikemas dalam
plastik. Adapun jamur yang kurang berkualitas dapat dipasarkan di pasar
tradisional. Jamur hasil panen ini sebaiknya segera dipasarkan, karena daya tahannya tidak lama. Pada suhu
kamar, jamur merang hanya bertahan 1 – 2 hari, sedangkan bila disimpan dalam
lemari pendingin dapat bertahan 3 – 4 hari.
Sumber: Sunandar (2010), Proses Pemanenan Jamur Merang
G. PASCA PANEN JAMUR MERANG
Berikut
ini merupakan proses pasca panen jamur merang segar menurut Kementrian
Pertanian (2011):
1. Sortasi awal
Sortasi
awal bertujuan untuk memisahkan jamur dari kotoran-kotoran yang terbawa pada
saat panen, seperti tanah, pasir, kerikil, daun, dll. Biasanya kegiatan sortasi
awal dilakukan bersamaan dengan proses pemanenan untuk menjaga kondisi jamur
agar tetap segar. Hasil petikan ditampung, sebab walaupun jamur sudah dipetik,
namun jamur masih tetap aktif melakukan proses respirasi. Setelah dipanen,
kemudian dikumpulkan ditempat pengumpulan, kemudian dilakukan grading untuk
memudahkan dalam menentukan keseragaman antara yang kualitas super dan yang
tidak super dalam pemasarannya.
2. Pembersihan
Jamur
dibersihkan dari kotoran yang menempel pada bagian akar dan buah jamur sehingga
daya simpan jamur akan lebih lama. Pembersihan dilakukan dengan memotong akar
dan pangkal tangkai jamur dengan pisau tajam dan bersih, lalu kotoran, spora
dan air media yang menempel pada permukaan tubuh buah dibersihkan. Dalam pembersihan
tidak boleh menggunakan air.
3. Grading
Setelah
dilakukan sortasi awal dan pembersihan, maka dilakukan grading jamur merang segar berdasarkan kualitas hasil panen jamur
merang seperti pada tabel berikut:
Sumber:
Kementrian Pertanian (2011)
4. Penimbangan
Penimbangan
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui berat jamur merang sebelum dipasarkan
sesuai dengan keinginan konsumen.
5. Pengemasan
dan Pelabelan
Pengemasan
jamur merang dapat dilakukan dengan cara:
· Jamur
merang yang akan dipasarkan langsung dapat dikemas dengan rinjing plastik yang
berongga, ditutup dengan koran/daun pisang, dan jangan sampai terkena benturan
ataupun sinar matahari sehingga mengakibatkan rusak/cepat mekar.
· Dapat
pula dikemas di dalam kain batis (cheese
cloth) yang selanjutnya disimpan dalam refrigerator
pada suhu 150oC.
· Dikemas
dalam kotak styrofoam yang bagian dasarnya
diberi es
· Dikemas
dalam peti kayu yang dindingnya dilapisi es yang dibungkus plastik
· Dikemas
dalam keranjang bambu yang diberi dry ice
yang dibungkus kertas. Pengemasan jamur merang dengan cara di atas dapat
mempertahankan kesegaran jamur merang hingga 4-5 hari.
Setelah dilakukan pengemasan, maka dilakukan pelabelan
produk untuk memudahkan identifikasi produk dan trace ability (daya telusur) demi keamanan pangan. Label umumnya
berisi antara lain nama produk, tanggal pengemasan, manfaat produk, nomor/kode
produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, dan metode penyimpanan.
Pengemasan jamur merang kering dapat dilakukan dengan menggunakan kantong
plastik dan ditutup rapat atau dimasukkan ke dalam kaleng kedap udara, dan
dapat bertahan sampai 6 bulan.
6. Penyimpanan
Penyimpanan
adalah usaha untuk mempertahankan daya guna suatu produk, dimana responnya
sangat bergantung pada karakteristik produk. Penyimpanan dan pengepakan jamur
dilakukan dengan memasukkan ke dalam keranjang plastik persegi atau wadah yang
berlubang atau berongga.
Penanganan pascapanen jamur merang dilakukan
untuk memperpanjang daya simpannya. Menurut Adiandri et al. (2012) dalam penelitiannya disebutkan bahwa penanganan pasca
panen dilakukan dengan cara meyimpanan jamur merang dalam larutan berbahan
aditif yang dikemas dalam standing pouch
dan gelas plastik (cup). Tahapan yang
dilakukan meliputi:
· sortasi
· pencucian
· perendaman
dalam larutan CaCl2 1% selama 1 menit
· blansing dalam air panas (suhu 80-100oC)
selama 1 menit
· pengemasan
dalam larutan berbahan aditif dan penyimpanan pada suhu ± 5oC.
Proses pembersihan/pencucian awal jamur
merang diperlukan untuk memisahkan kotoran yang ada serta mengurangi jumlah
mikroba awal. Kotoran yang perlu dihilangkan dari bahan baku jamur merang
terutama adalah jerami atau kompos sisa media budidaya jamur merang.
Tonton Video Dibawah Ini Supaya Lebih Paham :)
REFERENSI
Adiandri, R. S., S. Nugraha dan R.
Rachmat. 2012. Karakteristik Mutu
Fisikokimia Jamur Merang (Volvarella volvacea) Selama Penyimpanan dalam
Berbagai Jenis Larutand Kemasan. Jurnal Pascapanen 9(2): 77 – 87.
Gunawan, A. W.
2000. Usaha Pembibitan Jamur.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Kanza, Aufa
Aulia. 2015. Budidaya Jamur Kuping, Jamur
Merang, Jamur Tiram, dan Jamur Kancing. Jatinangor: FMIPA Unversitas
Padjajaran.
Karsid,
K., R. Aziz, dan H. Apriyanto. 2015. Aplikasi Kontrol Otomatis Suhu dan
Kelembaban untuk Peningkatan Produktivitas Budidaya Jamur Merang. Jurnal
Aplikasi Teknologi Pangan 4(3).
Kementrian Pertanian. 2011. Pedoman Teknologi Penanganan Pascapanen
Jamur. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura Direktorat Budidaya dan
Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat.
Sunandar,
Bambang. 2010. Budidaya Jamur Merang.
Bandung: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat.








